6 Desa Wisata yang Harus Kamu Kunjungi Sekali Seumur Hidup - Bakpia Mutiara Jogja

6 Desa Wisata yang Harus Kamu Kunjungi Sekali Seumur Hidup

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan pulau, beragam suku dan tradisi yang tak terhitung jumlahnya. Kekayaan budaya nusantara masih dijunjung tinggi di banyak desa di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa desa di seluruh negeri yang memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya, seperti yang sudah Bakpia Mutiara Jogja rangkum khusus buat kamu.

Penglipuran

Terletak di Bangli, Penglipuran adalah salah satu desa tertua di Pulau Bali yang masih berdiri sampai sekarang. Desa Bali Aga dan komunitas Bali Majapahit yang terletak 625 meter di atas permukaan laut berasal dari abad ke-18. Keunikan Penglipuran adalah keseragaman yang bisa dilihat dari pintu masuk rumah. Aspek lain yang menarik adalah keberadaan lorong-lorong dari satu rumah ke rumah lainnya yang mewakili keterkaitan dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakatnya.
 

Sade Lombok

Ketika tiba di desa yang terletak di kabupaten Puju, Lombok Tengah, kamu akan melihat rumah-rumah penduduk asli Lombok dari suku Sasak. Rumah-rumah ini terbuat dari kayu dan memiliki atap jerami. Aspek yang menarik dari desa ini adalah bahwa sesekali, lantainya ditutupi dengan kotoran kerbau. Tradisi budaya desa adalah penculikan pasangan yang baru menikah.
 

Wae Rebo

Aspek unik dari desa wisata yang dikelola dengan baik ini adalah bahwa ada tujuh rumah yang sangat terkenal dalam bentuk kerucut. Saat berkunjung ke sini, pengunjung hanya akan dapat bermalam di salah satu dari tujuh rumah berbentuk kerucut, yang telah berdiri selama 19 generasi dan dikenal sebagai Mbaru Niang. Rumah-rumah tradisional ini terbuat dari kayu, dengan atap jerami yang digerakkan ke atas. Gaya arsitektur rumah-rumah ini dianggap sangat tradisional dan unik.
 

Baduy

Desa Baduy asli, juga dikenal sebagai desa Kanekes, terletak di distrik Leuwidamar kabupaten Lebak, Banten. Desa ini dikenal karena mempertahankan tradisi kuno. Secara teknis ada 65 dusun di Kanekes, yang dibagi menjadi Baduy dalam dan Baduy luar. Yang terakhir terdiri dari tiga dusun bernama Cikartawana, Cibeo dan Cikeusik. Ketika mengunjungi Baduy, wisatawan dapat menikmati keindahan alam dan tradisi lokal. Di Baduy dalam, ada sejumlah peraturan yang ditegakkan dengan ketat, seperti larangan mengambil foto dan video, dan selama bulan Kawalu, desa ditutup selama tiga bulan. Ini berarti wisatawan tidak diperbolehkan berkunjung dari Februari hingga April.
 

Trunyan

Trunyan adalah sebuah desa yang terletak di tepi Danau Batur kabupaten Kintamani di Bali. Ada banyak praktik pemakaman yang berbeda di Indonesia. Misalnya, di Bali, banyak orang membakar orang yang sudah meninggal. Namun, di Trunyan, praktiknya sedikit lebih unik. Di desa ini, almarhum tidak dibakar, dan mereka tidak dimakamkan juga. Sebaliknya, selama beberapa generasi, almarhum telah diletakkan di tanah dan dibiarkan membusuk di permukaan cekungan dangkal. Dalam praktik ini, yang disebut sema wayah, mayat-mayat itu berbaris berdampingan dengan mayat-mayat lainnya, lengkap dengan kain pembungkus sebagai perlindungan, tetapi wajah tetap terbuka melalui bingkai bambu yang disebut ancak saji.
 

Pitu

Desa ini terletak di Gunungkidul, Yogyakarta, dan merupakan rumah bagi hanya tujuh keluarga. Alasan mengapa hanya ada tujuh keluarga adalah karena legenda mengatakan bahwa setiap keluarga tambahan akan memicu bencana atau kejadian lain yang akan mengembalikan jumlah rumah tangga menjadi tujuh. Inilah sebabnya mengapa desa akan selalu berusaha mempertahankan hanya tujuh rumah tangga di masyarakat.
 
Tertarik mengujungi desa wisata di atas?